Make your own free website on Tripod.com

 

 


Browser yang Anda gunakan, dengan resolusi berjalan dengan sangat baik di situs ini

 

Halaman Utama | Home | Blog | Tentang Kami | Berita Terbaru | Catatan Harian FPKM |  Program Kerja dan Jadwal Kegiatan

 Majalah Digital FPKM  | Artikel |Kumpulan Artikel | CD Kompilasi | Mailing list | Alamat Situs Penting | Buku

 Panduan Menulis | Link Perpustakaan Digital Dunia | Surat Kabar | Majalah | Televisi | E-book Gratis

 


ARTIKEL INFO TIPS

 Silahkan pilih artikel yang ingin dibaca dengan mengklik nomor artikel berikut :

1   2   3   4   5   6

Catatan Harian Acara Kumpul-Kumpul Forum Penulis Kota Malang

 

Artikel 3

BOOK FAIR, MENGAPA SELALU DI KOTA BESAR ?

Oleh : Vita Priyambada (Peminat Buku, tinggal di Jl. Bendungan Siguragura III/6 - Malang).

Baru tiga kali saya memperoleh kesempatan mengunjungi pameran buku yang besar. Pertama pada acara Gramedia Fair 2004 di Plasa Tunjungan Surabaya yang berlangsung 6-15 Agustus 2004. Kedua, pada Pesta Buku Jogja yang berlangsung 8-16 Februari 2005, diselenggarakan Ikatan Penerbit Indonesia (IKAPI) Cabang DIY. Ketiga, pada acara Pesta Buku Gramedia Kompas 2005 di AJBS Pasaraya Surabaya yang berlangsung 20-28 Agustus 2005.
Sebagai pecinta buku, saya selalu menyimak iklan-iklan tentang pameran buku yang digelar dan yang akan digelar. Pameran Buku Anak dan Pendidikan Anak di Istora Bung Karno Senayan Jakarta, Gramedia Book Fair di Bentara Budaya Jakarta, Gramedia Fair dengan jadwal tiga kota besar (Bandung, Surabaya, dan Jakarta), Jakarta Book Fair, dan lain-lain. Para pecinta buku di kota-kota besar benar-benar dimanjakan dengan berbagai pameran buku dengan potongan harga yang besar.
Pertanyaan yang kemudian muncul di benar, mengapa penyelenggaraan pameran buku besar selalu di kota besar ? Alasan utama yang diajukan karena banyak penerbit yang mempunyai basis di kota besar sehingga dapat menekan biaya dan lebih mudah untuk mengusung buku-bukunya ke tempat pameran. Pertimbangan lain yang mungkin jadi alasan, karena konsumen lebih banyak di kota-kota besar dan tempat-tempat pameran yang luas tersedia di banyak tempat.
Alasan-alasan di atas masuk akal tetapi sangat tidak adil dan sering membuat iri pecinta buku yang tinggal di kota sedang atau kecil. Boleh jadi pecinta buku dari kota kecil khusus datang hanya untuk mengunjungi dan menyaksikan pameran buku dengan skala akbar yang jarang diselenggarakan sehingga kesempatan langka itu digunakan sebaik-baiknya.
Mungkin saja ada yang mau melakukan hal tersebut, namun langkah ini tidaklah praktis. Biaya transportasi dari kota asal ke kota tujuan, biaya tinggal selama pameran, dan tentu saja biaya membeli satu dua buku, tidaklah sedikit. Barangkali masalah itu tidak jadi soal bagi sebagian orang, yang penting dia memperoleh kepuasan batin dengan mengunjungi pameran buku, yang belum tentu didapat dari sekedar mengunjungi toko-toko buku yang besar sekalipun. Yang merana tentu penggemar buku yang hanya punya duit pas-pasan, padahal sekedar mengunjungi pameran yang besar tanpa membeli satu dua buku saja sudah jadi rekreasi yang sangat berarti.
Apapun yang menjadi alasan, pecinta buku yang tinggal di kota kecil berhak mendapat akses untuk melihat dan mengunjungi pameran buku walaupun dengan skala yang kecil. Tidak sekedar melihat saja tetapi juga berhak memperoleh buku-buku berkualitas dengan harga yang lebih murah dari harga biasa. Menyelenggarakan expo furniture, otomotif, pekan raya daerah atau apa saja bisa digelar oleh pemerintah daerah atau swasta secara besar-besaran, mengapa untuk pameran buku tidak bisa ?
Daya Tarik Pameran Buku
Pameran buku tidak hanya menjadi sarana promosi, mendekatkan diri dengan konsumen dan berinteraksi langsung dengan pecinta buku. Penerbit juga mempunyai kewajiban mencerdaskan kehidupan bangsa melalui buku-buku bermutu yang diterbitkan. Pameran buku merupakan salah satu cara menumbuhkan minat baca dan budaya membaca.
Selama ini, setiap penyelenggara pameran buku rasa-rasanya tak pernah sepi dari pengunjung dan selalu mampu menarik minat masyarakat dari berbagai kalangan seperti anak-anak, remaja, pelajar, mahasiswa, pendidikan, orang tua, sampai masyarakat umum.
Beberapa daya tarik pameran buku adalah pertama, pameran buku menjadi ajang berkumpulnya berbagai penerbit di satu tempat sehingga para penggila buku tidak perlu mengeluarkan ongkos transportasi berlebihan untuk pergi dari satu toko buku ke toko buku lainnya. Kedua, pengunjung bisa mendapat buku dengan harga lebih murah karena penerbit memberikan potongan harga yang besar. Ketiga, tempat pameran yang luas sehingga memberi kelegaan dan kenyamanan bagi pengunjung untuk mendatangi gerai satu per satu.
Keempat, lokasi yang strategis sangat mudah dicapai dengan kendaraan umum dan kendaraan pribadi. Kelima, suasana yang berbeda dari toko buku. Keenam, banyaknya brosur dan katalog terbaru dari penerbit sehingga pecinta buku bisa mengakses dengan leluasa. Ketujuh, ada kegiatan pendamping yang ikut meramaikan pameran seperti seminar, lomba mendongeng, melukis, menulis, resensi, jumpa pengarang dan lain-lain.
Banyak sekali manfaat yang bisa diambil dari pesta buku. Penerbit-penerbit buku sudah saatnya memikirkan untuk mengadakan pameran berskala besar di kota kecil secara bergilir. Upaya mencerdaskan bangsa dan menumbuhkankembangkan minat dan budaya membaca harus merata sehingga menjangkau masyarakat lebih luas. Saya yakin di mana pun pameran buku diadakan, baik di kota besar maupun kota kecil yang potensial, mampu menarik minat masyarakat. Karena sesungguhnya mereka juga ingin memperoleh buku-buku bermutu dengan harga murah.

(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 103/24-30 April 2006).


WISATA BACA DI PERPUSTAKAAN UMUM KOTA MALANG

Oleh : Vita Priyambada (Peminat Buku, tinggal di Jl. Bendungan Siguragura III/6 - Malang).

Bila Anda pengunjung setia perpustakaan kota Malang sejak dahulu, saya yakin Anda bisa merasakan perubahan yang sangat mendasar. Benar, sejak menempati gedung baru yang diresmikan 23 Desember 2004, perpustakaan selalu ramai dengan pengunjung. Kesan sepi dan lengang dengan koleksi buku-buku lama dan penuh debu sudah berubah sama sekali.
Dulu, deretan buku-buku yang selalu menunggu jamahan tangan pembaca. Kiniyang terjadi sebaliknya, tangan pembaca yang memperebutkan buku.
Gedung perpustakaan yang baru, koleksi buku-buku fiksi, non fiksi dan majalah untuk umum, remaja dan anak-anak yang baru dan selalu diperbarui memenuhi rak-rak. Buku-buku referensi, surat kabar, bahkan kumpulan kliping tersedia di perpustakaan ini. Tidak itu saja. Fungsi perpustakaan bukan lagi terbatas sebagai tempat membaca dan meminjam buku, tetapi sebagai pusat kegiatan belajar, pameran foto dan lukisan, acara bedah buku, lomba pidato bahasa Inggris, lomba mendongeng, kegiatan belajar bahasa Inggris dalam kelompok (MAFEC - Malang Fun English Club).
Book Fair Malang bulan September 2006 pun lalu diselenggarakan di sini. Yang paling baru adalah terbentuknya Forum Penulis Kota Malang pada 8 Oktober 2006 yang menjadi wadah bagi penulis-penulis di kota Malang untuk bertukar pikiran.
Jam buka perpustakaan yang rata-rata pukul 8 pagi sampai pukul 4 sore memberi kemudahan bagi pengunjung memilih waktu yang tepat baginya. Dengan jam buka yang panjang memungkinkan pelajar berkunjung ke tempat ini setelah pulang sekolah. Perpustakaan ini tak mengenal hari libur. Perpustakaan tetap buka pada hari Minggu dan hari libur Nasional dengan catatan pada hari tersebut tidak melayani peminjaman, pengembalian dan perpanjangan buku serta pendaftaran anggota baru. Perpustakaan tutup bila libur nasional yang bertepatan dengan hari Jumat.
Melihat perpustakaan yang tak pernah sepi pengunjung tampak bahwa masyarakat dan pelajar mempunyai gairah baru dalam perbukuan dan kegiatan mereka. Mereka datang untuk membaca sekedar melepas diri dari rutinitas sehari-hari atau mengerjakan tugas-tugas sekolah dan mengambil manfaat dari kegiatan membaca. Ruang perpustakaan yang nyaman dan luas, koleksi berbagai jenis bacaan seperti novel, majalah, buku-buku pengetahuan, referensi, dan keanggotaan yang gratis membuat minat baca tumbuh perlahan-lahan. Mahalnya harga buku-buku di pasaran semakin mendorong pengunjung untuk memanfaatkan perpustakaan untuk meminjam buku.
Membaca adalah kegiatan utama dalam pendidikan. Dengan membaca kita dapat memperoleh informasi berharga tentang berbagai hal. Walaupun membaca kegiatan mudah, namun kegiatan ini perlu diperkenalkan dan ditanamkan sejak usia dini kepada anak-anak. Tugas kita semua memperkenalkan buku pada anak. Untuk itu syarat utama yang harus dipenuhi, paling tidak orang tua mempunyai kecintaan pada buku dan kegiatan membaca. Kalau membaca sudah menjadi budaya pada orang tua, maka mudah menularkan kecintaan membaca pada anggota keluarga. Sebagai langkah awal, kita dapat membacakan dongeng dengan memberikan buku cerita bergambar untuk anak-anak yang belum terampil membaca.
Orang tua perlu mengembangkan dan memelihara minat baca yang mulai tumbuh. Sebelumnya bila liburan sekolah tiba mengadakan rekreasi ke tempat-tempat wisata, sekali-kali ajaklah anaka melakukan wisata baca dengan berkunjung ke perpustakaan. Memberi pengenalan kepada anak, bahwa perpustakaan sebagai tempat menyimpan berbagai macam tema buku yang menarik dan tempat mengasyikkan untuk membaca. Ajaklah anak untuk menjadi anggota perpustakaan atas namanya sendiri. Tentunya anak akan bangga mempunyai kartu anggota perpustakaan dengan namanya sendiri. Katakan bahwa dengan kartu itu anak boleh memilih dan meminjam buku bacaan anak yang menarik sesuai dengan minatnya.
Kunjungan rutin ke perpustakaan bersama anggota keluarga bermanfaat untuk mempertahankan dan membina minat baca. Kecintaan pada buku dengan sendirinya mengajarkan kepada anak-anak - tentunya dengan bimbingan orang tua - untuk memperlakukan buku dengan baik, misalnya cara merawat buku, merapikan dan membersihkan buku, dan sebagainya yang berkaitan dengan buku. Selanjutnya bila anak benar-benar menjadi kutu buku, banggalah Anda sebagai orang tua karena anak-anak berteman dengan buku, asalkan tidak menjadi "kutu buku" atau "ngengat" yang menggerogoti dan menghancurkan buku. Ayo ke perpustakaan !

(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 128/Senin III/16-22 Oktober 2006, halaman 14).


MALANG BOOK FAIR, MIMPI YANG MENJADI KENYATAAN

Oleh : Vita Priyambada (Pecinta buku dan anggota Forum Penulis Kota Malang).

Kesempatan saya untuk mengunjungi Pesta Buku Jakarta akhirnya terwujud. Kesempatan yang sudah saya tunggu sejak lama akhirnya tiba ketika saya hanya bisa berangan-angan saat melihat iklan-iklan pesta buku di berbagai kota pada salah satu harian nasional. Ada rasa iri terselip di hati kecil saya, mengapa penyelenggaraan pesta buku harus selalu di kota besar ? (baca juga tulisan saya di KORAN PENDIDIKAN edisi 103, 24-30 April 2006 pada rubrik Wacana : Book Fair, Mengapa Selalu di Kota Besar ?).
Setelah Pesta Buku Jakarta yang berlangsung 1-9 Juli 2006 lalu usai, saya melihat jadwal kegiatan pesta buku pada brosur yang diperoleh dari salah satu gerai penerbit. Jadwal penyelenggaraan pesta buku itu antara lain : Pesta Buku Bandung 1-7 Agustus 2006, Pesta Buku Yoyga 23-28 Agustus 2006, Padang Book Fair 26 Agustus - 3 September 2006, 6th Yogya Islamic Book Fair 1-7 September 2006, Pesta Buku Makassar 6-10 September 2006 dan 4th Solo Islamic Book Fair 9-17 September 2006. Akhirnya impian saya tercapai dan pertanyaan saya terjawab dengan diselenggarakannya Malang Book Fair 14-22 September 2006 lalu yang diadakan di Perpustakaan Umum Kota Malang.
Malang menjadi salah satu tujuan banyak pelajar dan calon mahasiswa dari berbagai daerah. Banyak pilihan sekolah, perguruan tinggi negeri dan perguruan tinggi swasta di kota ini. Suasana dan lingkungan yang nyaman dan tenang dibandingkan dengan kota besar lain membuat Malang menjadi kota pilihan. Sebagai kota pendidikan sudah seharusnya ada pameran buku yang rutin digelar setiap tahun, kalau perlu dua kali dalam satu tahun dengan mencontoh Pesta Buku Yogya. Pameran buku ini tidak terbatas pada pameran yang diselenggarakan di perguruan tinggi karena ada kesan dari masyarakat bahwa pameran buku yang diselenggarakan di lingkungan kampus cenderung eksklusif dan terbatas pada kalangan mahasiswa. Oleh sebab itu pameran buku selalu diadakan di ruang publik yang mempunyai ruang luas dan nyaman. Tempatnya harus mudah dijangkau oleh masyarakat. Pameran buku yang digelar sebaiknya merupakan pameran buku umum yang dapat meraup semua kalangan dari anak-anak sampai dewasa, tua dan muda dan dari golongan apa pun.
Mengapa harus ada pameran buku ? Pameran buku menjadi pertemuan yang tepat antara pengunjung dan penerbit. Pameran buku identik dengan potongan harga. Untuk penerbit baru, acara ini menjadi ajang untuk memperkenalkan diri kepada masyarakat, sedangkan bagi penerbit-penerbit yang sudah mapan menjadi pijakan untuk memperkokoh kedudukan. Di arena ini selain buku-buku baru, penerbit mengeluarkan buku-buku lama yang menumpuk karena tidak atau belum habis masa penjualannya. Kesempatan yang ditawarkan penerbit dengan memberikan potongan harga yang cukup besar merupakan kesempatan bagi pengunjung membeli buku sepuasnya. Dengan jalan ini, pengunjung bisa memperoleh buku dengan harga murah, yang dengan harga sesungguhnya mungkin tak terbeli, sedangkan penerbit tidak terlalu rugi menjual buku dengan harga murah.
Pada kesempatan ini banyak penerbit mengeluarkan katalog dan brosur yang memuat daftar buku yang diterbitkan atau daftar buku-buku baru. Inilah kesmpatan bagi pengunjung untuk melengkapi koleksi buku-bukunya. Katalog ini berguna juga apabila kita membutuhkan buku-buku lama yang persediaan di toko-toko buku mungkin sudah kosong. Kita bisa memesan langsung ke penerbit dan untuk buku-buku lama ada penerbit yang memberikan potongan sampai separuh harga dari harga yang tercantum. Cara ini juga bisa digunakan untuk membandingkan dan memantau harga buku di toko buku setelah pameran usai. Sebagai kegiatan pendukung, ada agenda acara yang disusun harian seperti seminar, bedah buku, jumpa pengarang, dan kursus-kursus singkat yang berhubungan dengan kegiatan menulis serta membaca. Agenda acara ini bisa dicantumkan dalam katalog pameran yang berisi daftar peserta dan alamat penerbit.
Melihat antusiasme pengunjung pada Malang Book Fair, saya yakin minat membaca di kota ini cukup tinggi, walaupun tolok ukur tidak hanya dari faktor itu saja. Faktor lain yang ikut mempengaruhi, misalnya daya beli masyarakat dan harga buku di pasaran. Dengan adanya pesta buku dapat menumbuhkankembangkan minat baca sekaligus budaya membaca (dan menulis) di semua kalangan. Karena itu peran orang tua mempunyai pengaruh yang sangat besar dalam meningkatkan minat membaca sejak anak-anak dan diharapkan akan terus tumbuh dan berkembang hingga dewasa. Pesta buku ini bisa menjadi obyek wisata baca yang bermanfaat bagi keluarga sekaligus mendidik masyarakat mencintai buku dan mengisi waktu senggang dengan membaca untuk mencerdaskan kehidupan bangsa.

(Dikutip dari "KORAN PENDIDIKAN" Edisi 132/Senin III/20-26 November 2006).


JURUS MENEMBUS MEDIA CETAK
(Disampaikan pada Sarasehan Menulis Produktif : Kiat Menembus Penerbit, Koran dan Lomba-Lomba Kepenulisan, UKM Penulis (UKMP) Universitas Negeri Malang, 24 November 2006)

Oleh : Vita Priyambada (Pecinta buku dan anggota Forum Penulis Kota Malang).

Setiap orang bisa menulis. Untuk menjadi penulis yang baik, ketrampilan menulis harus terus menerus dilatih. Selanjutnya tetapkan tujuan, untuk apa menulis ? Untuk diri sendiri atau karya itu akan dipublikasikan agar dibaca banyak orang ? Supaya karya penulis bisa dipublikasikan, diperlukan jurus-jurus agar tulisan dimuat di media cetak. Apa saja ?

Faktor Teknis
1.  Gagasan. Gagasan bisa datang dari mana dan kapan saja karena sesungguhnya gagasan berserakan di mana-mana. Dari pengamatan, pengalaman, membaca, dsb. Untuk itu usahakan selalu membawa alat tulis ke mana saja. Bila memperoleh gagasan apalagi dalam kondisi ide "mengalir deras", segera tulis ide-ide pokoknya. Hal ini untuk mencegah hilangnya gagasan. Dalam keadaan demikian kadang kecepatan tangan menulis tidak bisa mengimbangi kecepatan pikiran dengan seabreg gagasan yang lalu lalang.
2.  Kerangka karangan. Membuat kerangka karangan hanya untuk memudahkan penulis mengembangkan naskah. Setiap penulis mempunyai cara sendiri untuk membuat naskah, apakah membutuhkan kerangka karangan atau tidak. Tulis karangan yang disukai dan dikuasai saja karena akan lebih memudahkan penulis menuangkan gagasan secara utuh. Pengetahuan dasar penulis sering mempengaruhi mutu tulisannya.
3.  Penulis spesialis/generalis. Pada awalnya mungkin penulis pemula akan membuat tulisan yang bermacam-macam seperti opini, artikel, cerpen, puisi (penulis generalis). Tetapi semakin sering menulis, pikirannya akan semakin terasah dan mutu tulisannya akan meningkat. Lama kelamaan penulis akan menemukan ciri khas, karakter dan kekuatannya sendiri, apakah lebih kuat menulis artikel, cerpen, essai, dsb. Dengan menjadi penulis spesialis, kita akan lebih cepat diakui sebagai pakar di bidang tertentu.
4.  Pengiriman naskah. Ada baiknya pengiriman artikel pertama ke media dilakukan melalui pos sebagai salam perkenalan dengan menyertakan fotokopi identitas dan surat pengantar. Bila perlu, pengalaman menulis (jika sudah ada) dicantumkan untuk memperkuat pengakuan. Apabila sudah kenal redakturnya, pengiriman lewat surat elektronik (email) dapat dilakukan. Di zaman serba cepat sekarang ini, sesungguhnya tidak ada larangan mengirim artikel lewat e-mail, asalkan ada surat pengantar.

Faktor Non Teknis
1.  Karakter media. Masing-masing media mempunyai karakter. Ini berlaku untuk surat kabar harian, majalah dan tabloid. Penulis perlu memperhatikan, mengetahui dan memahami karakter tulisan di media menyangkut segmen pembaca, pilihan tema dan gaya bahasa. Caranya dengan mempelajari artikel-artikel yang sudah dimuat. Contoh : Tabloid Nova dan Nakita membidik para ibu rumah tangga dan keluarga. Majalah Femina membidik para lajang dan ibu rumah tangga menengah ke atas. Gaya bahasa resmi dipakai harian Kompas karena segmen pembacanya luas (nasional). Harian Kedaulatan Rakyat dan Jawa Pos yang merupakan koran daerah menyelaraskan gaya bahasa sesuai dengan kebudayaan setempat yang kadang menyelipkan bahasa daerah setempat.
2.  Kenali redakturnya. Bila memungkinkan, bicarakan dengan redaktur sebelum mengirim tulisan. Tanyakan tulisan macam apa yang layak dimuat dan tema apa yang diutamakan. Dari pembicaraan ini penulis dapat mengetahui selera redaktur terhadap naskah yang akan dimuat. Pergantian redaktur kadang mengubah selera tulisan yang dimuat.
3.  Kebijaksanaan redaksional. Penulis perlu mengetahui syarat-syarat mengirim naskah seperti panjang pendek tulisan, banyaknya karakter, ketentuan spasi, dsb.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan !
1.  Jangan menjiplak.
2.  Jangan mengirim tulisan yang sama ke banyak media.

Buku-buku yang disarankan untuk dibaca
Among Kurnia Ebo, Menulis Nggak Perlu Bakat, MU: 3 Books, Jakarta, 2005.
Andrias Harefa, Agar menulis Mengarang Bisa Gampang, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2002.
Bambang Trim, Saya Bermimpi Menulis Buku, Kolbu Publishing, Bandung, 2005.
Carmel Bird, Menulis dengan Emosi - Panduan Empatik Mengarang Fiksi, Kaifa, Bandung, 2001.
Caryn Mirriam-Goldberg, Daripada Bete Nuli Aja !, Kaifa, Bandung, 2003.
Edi Zaqeus, Resep Cespleng Menulis Buku Best Seller, Gradien Book, Yogyakarta, 2005.
Hernowo, Mengikat Makna : Kiat-Kiat Ampuh untuk Melejitkan Kemauan Plus Kemampuan Membaca dan Menulis Buku, Kaifa, Bandung, 2001.
Jordan E. Ayan, Bengkel Kreativitas, Kaifa/Mizan, Bandung, 2002.
Josip Novakovich, Berguru kepada Sastrawan Dunia: Buku Wajib Menulis Fiksi, Kaifa, Bandung, 2003.
M. Arief Hakim, Kiat Menulis Artikel di Media dari Pemula Sampai Mahir, Nuansa Cendekia, Bandung, 2004.
Mark Levy, Menjadi Genius dengan Menulis, Kaifa/Mizan, Bandung.
Zaenuddin, H.M., Freelance Media - Cara Gampang Cari Uang, Milenia Populer, Jakarta, 2003.
dan lain-lain.

BACAAN ANJURAN LAINNYA
Majalah Matabaca, bulanan, Gramedia.
Suplemen Ruang Baca, koran Tempo hari Minggu terakhir setiap bulan.
Pustakaloka, Kompas hari Sabtu III dan IV.
Rubrik Pustaka dan Selisik, Republika setiap hari Minggu.

Mailing List komunitas penulis yang lain :
penulisbestseller@yahoogroups.com
penulislepas@yahoogroups.com

Konsultasi (yang berhubungan dengan kepenulisan, penerbitan, dan sejenisnya):
Edy Zaqeus edzaqeus@yahoo.com atau edzaqeus@pembelajar.com


Buka Hati dan Mata
Ungkapkan dengan Kata
Kabarkan lewat Tinta
Untuk Berkarya


"Buku adalah teman yang paling setia. Dia selalu hadir saat susah dan senang. Cintai dan sayangilah dia".
 

Ditulis ulang oleh :
Admin Forum Penulis Kota Malang

 

 

 

Kumpulan Artikel dan Info :
Majalah Digital FPKM

Links :
1. Alamat situs penting
2. Link perpustakaan digital

3. Media Surat Kabar

4. Media Majalah

5. Alamat Penerbit Buku

6. Alamat Email Media Massa

 

Interaksi :

1. Mailing list

2. Blog

3. Kirim E-mail ke FPKM

4. Webmaster

 

 

 

 


Kunjungi selalu situs resmi Forum Penulis Kota Malang
 
Website : http://komunitaspenulisfpkm.tripod.com/index.html

Jangan lupa untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan dengan mengirimkan artikel, saran atau informasi lewat email.

E-mail :  forum_penulis_kota_malang@yahoo.com

Terima kasih kepada rekan-rekan semua atas saran dan dukungannya

 


Copyright © Forum Penulis Kota Malang® 2007 - Maju Terus untuk Berkreasi dan Berinovasi